Membahas Kasus IB Pada Ayam Setelah di Nekropsi

Pada pengamatan hasil nekropsi ditemukan adanya eksudat sereus pada sinus hidung yang juga diikuti oleh adanya warna kekeruhan pada kantung udara (air sacculitis). Hal ini berkaitan dengan sifat dari virus penyebab IB (Coronavirus) yang menyerang saluran pernafasan diawal infeksi. Kondisi ini biasanya bersifat akut dan ditandai dengan adanya gejala ngorok pada ayam akibat adanya leleran pada hidung. Apabila kasus ini tidak segera ditangani lesio lanjutan yang sering ditemukan.berupa kantung udara mengandung eksudat kaseus berwarna kekuningan dan pneumoni pada paru-paru.

Hosting Murah

Pada traktus digestivus ditemukan lesion berupa ditemukannya darah pada cecal tonsil yang merupakan indikasi adanya aktifitas infeksi virus di dalam tubuh ayam. Kelainan berupa nekrosa pada hati kemungkinan dapat dikaitkan dengan adanya infeksi sekunder yang mengiringi penyakit IB yang dapat menyebabkan nekrosa jaringan hati. Kerusakan jaringan hati ini semakin memperburuk keadaan ayam dan semakin mempercepat kematian ayam pada kasus akut.

Pengamatan pada traktus urogenital menunjukkan adanya bentuk nefropathy pada ginjal ayam. Bentuk yang ditemui berupa ginjal yang membengkak, berwarna pucat, dan tubuli serta ureter kerapkali akan melebar akibat adanya timbunan asam urat. Pada kasus ini ginjal biasanya menunjukkan suatu bentuk nefritis interstitialis dan pada stadium lanjut  nekrosis epitel tubuli, yang diikuti akumulasi asam urat dan hancuran sel di dalam epitel tubuli. Ureter akan menunjukkan metaplasia dan nekrosis epitel. Di samping itu akan terlihat juga distensi ureter akibat adanya timbunan asam urat dan pada kejadian urolitiasis ginjal biasanya mengalami atrofi.

Lesio paling utama yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi telur diakibatkan oleh adanya gangguan perkembangan oviduk secara partial ataupun total. Gangguan pertumbuhan oviduk meliputi ukuran maupun berbagai strukturnya, misalnya kelenjar mukosa. Bagian tengah dari oviduk merupakan bagian paling parah dan saluran tersebut mungkin saja tidak buntu dan hanya ditandai oleh penurunan jumlah kelenjar. Ayam tersebut dapat mengalami ovulasi secara normal, tetapi ova masuk ke dalam ovarium yang tidak berkembang sempurna dan dapat menghasilkan telur dengan kualitas albumin dan kerabang yang rendah. Hal ini terlihat dari warna kerabang yang pucat dan terdapat spot warna gelap secara tidak merata pada telur. Bentuk telur menjadi abnormal dan albumin menjadi sangat encer hingga batas antara albumin kental dan encer menjadi hilang. Semua ini dikaitkan dengan degenerasi sel-sel penghasil musin pada magnum dan epitel kelenjar uterus. Kerusakan pada magnum akan menyebabkan abnormalitas pada albumin sedangkan kerusakan pada kelenjar uterus akan mengakibatkan abnormalitas pada kerabang telur.

Setelah mengalami infeksi IB, ayam kemudian mengalami infeksi sekunder. Infeksi yang terjadi dapat dilihat terjadi pada kantung hawa yang ditunjukkan oleh adanya air sacculitis. Kemungkinan ini akibat adanya bakteri E. coli yang menimbulkan kolibasillosis.

 

Daftar Pustaka

Tabbu, Charles Rangga. 2000. Penyakit Ayam dan Penaggulangannya (Penyakit Bakterial, Mikal, dan Viral). Volume I. Penerbit Kanisius. Jakarta.

Share

One Response to Membahas Kasus IB Pada Ayam Setelah di Nekropsi

Join Facebook
Kirim Tulisan
[Dunia Veteriner]
Arsip Tulisan
Sponsor Utama
Hosting Murah
Di Dukung Oleh
Jumlah Pengunjung
hit counters