Manusia dan Kehidupan Satwa Liar

Oleh: Alimansyah (Mahasiswa FKH IPB)

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang kontak antara manusia dengan satwa liar seperti harimau dan gajah yang semakin sering terjadi. Hal ini tentu hal yang sangat menarik, karena satwa liar yang hidup biasanya jauh dari manusia, kini sering bertemu atau berdekatan dengan manusia. Tentu saja, kedekatan ini menimbulkan polemic baru yang terjadi masyarakat. Seperti yang terjadi baru-baru ini di Pekanbaru, belasan ekor harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) berkeliaran di permukiman warga Desa Tanjung Sari, Kecamatan Kuala Cinaku, Kabupaten Inhu, Riau, hal ini menimbulkan keresahan dari warga karena harimau yang berkeliaran tersebut telah memakan ternak warga atau dapat mengancam keselamatan hidup dari warga desa. (okezone, 23 desember 2009). Ini merupakan salah satu contoh nyata yang menunjukkan hewan-hewan liar mulai hidup dekat dengan manusia.

Kedekatan hidup dari hewan liar dengan manusia tentulah menimbulkan kekhawatiran, karena semakin dekat kehidupan liar dengan manusia maka konflik yang terjadi antara manusia dan hewan-hewan liar ini akan semakin sering terjadi. Konflik antara manusia dan hewan liar dapat menyebabkan berbagai macam hal seperti kematian manusia, kematian hewan liar, kehilangan hewan-hewan ternak atau rusaknya kebun-kebun warga.

Konflik anatar mnusia dan hewan-hewan liar ini selain mengancam keselamatan manusia yang didatangi tapi juga keberadaan dari hewan-hewan liar ini, mengingat sebagian besar hewan-hewan liar ini merupakan hewan yang dilindungi oleh Negara dalam artian bahwa hewan-hewan ini merupakan hewan langka yang terancam punah.
Hewan-hewan liar yang mulia mendekat ke kehidupan manusia disebabkan oleh berbagai macam hal salah satunya ialah adanya kerusakan hutan lindung habitat dari hewan-hewan tersebut, maraknya penebangan liar atau perluasan pemukiman juga dituding sebagai semakin tingginya konflik antara manusia dan hewan liar ini.

Selain itu bencanan alam juga dapat menyebabkan hewan-hewan liar ini mendekat kepemukiman-pemukiman masyarakat seperti yang terjadi di Pekanbaru, Sebanyak lima ekor harimau Sumatera terpaksa turun gunung ke Desa Tanjung Sari, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhu), Riau. Berkeliaran harimau itu disebabkan salah satunya karena kawasan habitat raja hutan dikepung banjir (okezone: 14 Januari 2010)

Hutan yang harusnya menjadi tempat ditinggal hewan-hewan liar ini kini banyak mengalami kerusakan oleh manusia hingga menyebabkan luas area untuk mencari makan dari hewan liar ini berkurang hal ini tentu mambuat hewan-hewan liar ini mau tidak mau harus menyambangi kehidupan sekitar manusia yang menyediakan cukup makanan, selain itu pengurangan dari habitat hewan-hewan liar ini ditambah dengan adanya pemukiman atau perkebunan yang berasal dari area pembukaan hutan.

Sebenarnya perlu kita sadari bahwa sebagian besar konflik yang terjadi antar manusia dan hewan ini merupakan kesalahan dari manusia juga, dan sesungguhnya bukan hewan-hewan ini yang mengganggu keberadaan manusia tapi kitalah! manusia yang merebut habitat dari hewan-hewan ini.

Hal ini juga perlu menjadi perhatian pemerintah karena keberadaan hewan-hewan ini tentu dilindungi oleh undang-undang, selain itu keberadaan hewan-hewan ini merupakan bagian dari ekosisitem alam yang perlu kita jaga dan kita lindungi.

*Alimansyah (Ketua IMAKAHI Cabang FKH IPB Periode 2010)

  • Share/Bookmark
Print This Post Print This Post

Baca juga artikel lainnya :

No Comments

Comments are closed.

RSS feed for comments on this post.