Studi kasus: Myasis (Bagian-2)
- 12.18.09
- Kesehatan hewan, kasus miasis, miasis pada hewan, myasis
- Comments Off
Myasis adalah invasi larva lalat pada jaringan tubuh sehingga menyebabkan kerusakan pada jaringan tersebut. Myasis dapat berasal dari perlukaan akibat trauma yang dibiarkan terbuka dan didukung dengan adanya lingkungan kandang yang kotor sehingga mempermudah adanya invasi larva lalat.
Faktor penyebab
Larva lalat yang dapat menyebabkan myasis tergolong dalam genus Chrysomia. Genus Chrysomia yang memegang peranan penting dalam kasus myasis yaitu Chrysomia megacephala dan Chrysomia bezziana.
Patofisiologi
Myasis terbagi menjadi 2 yaitu myasis obligat dan myasis fakultatif. Perbedaan keduanya terdapat pada jaringan tubuh yang diserangnya. Myasis obligat hanya dapat terjadi pada jaringan tubuh yang masih hidup. Sedangkan pada myasis fakultatif dapat terjadi pada jaringan tubuh yang masih hidup maupun yang sudah mati. Myasis obligat disebabkan oleh larva Chrysomia bezziana sedangkan myasis fakultatif disebabkan oleh larva Chrysomia megacephala.
Siklus hidup Chrysomia sp.
Mekanisme myasis bermula dari lalat dewasa betina yang gravid meletakkan telurnya pada jaringan, kemudian telur tersebut menetas menjadi larva. Larva inilah yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada jaringan karena untuk melengkapi siklus hidupnya dan untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya maka larva akan memakan jaringan yang ada di sekitarnya dengan cara membuat terowongan pada jaringan tersebut. Aktivitas dari larva ini menyebabkan kegatalan yang luar biasa pada inang. Faktor yang menentukan daya tetas telur lalat adalah suhu dan kelembaban. Telur dapat menetas secara optimal pada suhu 37o–38oC dengan kelembaban 70-80%. Sedangkan faktor yang menentukan perkembangan larva menjadi dewasa adalah ketersediaan nutrisi dari larva tersebut. Larva yang sudah matang kemudian merayap keluar dari luka dan berubah menjadi nympha. Nympha yang telah matang kemudian berubah menjadi lalat dewasa.
Terapi
Terapi dapat dilakukan dengan pencucian menggunakan Kalium permanganat (PK) kemudian diberikan Penicillin 20.000 IU/kg bb dan salep biru secara topikal, setelah itu pasien diberikan Metronidazole 20 mg/kg bb po. Pencucian dengan Kalium permanganat bertujuan melisiskan jaringan yang telah mengalami nekrosa. Penicillin diberikan untuk mencegah infeksi bakteri yang mungkin terjadi akibat luka yang terbuka. Pemberian metronidazole untuk mencegah infeksi bakteri yang terjadi terutama bakteri anaerob (Bishop 1996). Salep biru merupakan salep racikan yang digunakan secara topikal serta mengandung minyak ikan, vaselin album, sulfanilamida, dan Gusanex®. Minyak ikan mengandung vitamin A dan D yang bagus untuk regenerasi kulit. Sulfanilamida serbuk merupakan antibiotik yang berfungsi untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri. Sedangkan Gusanex® merupakan parasitidal yang bagus untuk mengatasi ektoparasit.
sumber literatur: Bishop (1996)
Print This Post
































![kirimkan tulisan anda [Dunia Veteriner]](http://duniaveteriner.com/wp-content/uploads/2009/05/kirim-tulisan1.gif)
![Download [Dunia Veteriner]](http://duniaveteriner.com/wp-content/uploads/2009/12/banner_oke.gif)


No Comments
RSS feed for comments on this post.