Kebutuhan daging ayam nasional dipasok dari peternak Lokal

ayam-ilustrasiPeternakan Ayam dalam negeri (peternak lokal) sangat cukup dan mampu memenuhi kebutuhan daging ayam masyarakat Indonesia. Bahkan bila saja negeri ini tidak didera oleh penyakit flu burung, sejak tahun 2003 yang lalu, bangsa Indonesia mampu melakukan ekspor daging ayam ke beberapa negara di dunia ini. ini adalah prestasi yang sangat membanggakan tentunya. Oleh sebab itu, kondisi swasembada daging ayam ini harus tetap dipertahankan, dengan diiringi oleh upaya pembebasan penyakit flu burung tentunya. Apalagi masyarakat Indonesia sudah mulai banyak yang menjadikan daging sebagai kebutuhan dalam rangka mencukupi asupan protein (gizi) keluarga.

Belum lama ini, Ketua Umum Asosiasi Importir Daging Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring mengatakan peternak Indonesia tidak perlu khawatir adanya ancaman impor daging ayam asal Amerika karena seluruh kebutuhan telah dipasok peternakan lokal. “Kita sudah swasembada ayam sehingga kelihatannya pemerintah tidak mengizinkan impor daging ayam,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (3/9). demikian berita yang dilansir tempo (tempo interaktif).

Meskipun Departemen Pertanian masih mengizinkan impor ayam utuh, menurut Thomas, membuka keran impor ayam harus melewati banyak prosedur dan sulit untuk didapatkan. “Biayanya terlalu mahal,” tambahnya. Selain itu sebagian produk asal luar negeri juga terganjal ketentuan yang mengharuskan seluruh daging yang masuk ke wilayah Indonesia harus mendapatkan sertifikasi halal. “Ada kalkun, domba untuk bagian cut tertentu yang masih diimpor, relatif kecil,” kata Thomas.

Sebagian besar jenis daging yang masih diimpor yakni daging sapi karena terbatasnya pasokan dalam negeri. “Hampir 40 persen kebutuhan dalam negeri dipasok dari luar,” tambahnya. Indonesia membuka keran impor daging sapi dan sapi utuh untuk negara Australia dan Selandia Baru setelah kedua negara tersebut mengantongi sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia. Kedua negara tersebut juga telah bebas dari penyakit mulut dan kuku.


Ditempat lain, Ketua Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia (GAPPI) Anton Supit mengatakan seluruh kebutuhan ayam di dalam negeri telah dipasok oleh peternakan lokal. Bahkan dari kapasitas peternakan yang terpasang yakni 40 juta Daily Old Chicken (DOC), bibit ayam umur harian per minggu, yang berproduksi baru sekitar 26 juta per minggu. “Ini fluktuatif bisa 20 sampai 26 juta per minggu,” ujarnya. Hal ini dikarenakan tingkat konsumsi ayam di Indonesia yang masih sangat rendah yakni mencapai 4,8 kg per kapita pertahun. Padahal konsumsi ayam di Malaysia mencapai 38 kg dan Amerika mencapai 46 kg perkapita pertahun. “Ada orang yang dalam setahun yang makan ayam hanya sekali,” tambahnya.

Jika kita lihat, Tingkat konsumsi telur ayam pun hanya 46 butir pertahun per orang, jauh dari Malaysia yang mencapai 300 butir pertahun per orang. “Di Cina angkanya 300 butir lebih, malah di Amerika tiada hari tanpa telur ayam,” kata dia. Pemerintah, lanjutnya, perlu mendorong investasi pembangunan rumah potong ayam berskala besar untuk dapat menstabilkan harga ayam di pasaran yang dapat dijangkau seluruh masyarakat. “Dari segi ekonomis, slaughterhouse ini menjadi bemper supaya kalau ayam tidak terjual bisa disimpan dan harga jual juga tidak naik, semacam penstabilan harga,” ujar Anton.

Ketua Pusat Informasi Pasar Unggas, Hartono menjelaskan jumlah perusahaan potong ayam yang terintergrasi sebanyak 22 perusahaan. Investasi ayam potong berkisar US$ 50 per ekor ayam atau kisaran total investasi di atas US$ 20 juta untuk satu rumah potong skala besar. Kontribusi rumah potong ayam hanya mencapai 15 persen dari total kebutuhan ayam di dalam negeri karena sebagian besar masyarakat lebih memilih ayam segar yang langsung dipotong di pasar tradisional ketimbang ayam beku produksi rumah potong modern.

sumber: Diolah dari http://www.tempointeraktif.com

  • Share/Bookmark
Print This Post Print This Post

Baca juga artikel lainnya :

No Comments

Comments are closed.

RSS feed for comments on this post.