Vaksin Rotavirus Cegah Diare Akut
- 06.01.09
- Kesehatan hewan, waspada diare
- Comments Off
LEBIH dari 85% kematian akibat diare akut terjadi di negara berkembang di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia. Hal ini bisa dicegah dengan vaksin rotavirus.
Namun, vaksin rotavirus belum masuk ke Indonesia. Diare akut akibat infeksi rotavirus merupakan salah satu penyebab kematian utama balita di seluruh dunia.
Presiden Indonesian Rotavirus Surveillance Network (IRSN), Dr Yati Soenarto PhD, mengungkapkan, sejak 1970-an angka kematian akibat diare di Indonesia sudah tinggi dan saat ini jumlah kasus serangan diare menunjukkan kecenderungan meningkat.
Kematian akibat penyakit diare di Indonesia juga terukur lebih tinggi dari pneumonia (radang paru akut) yang selama ini didengungkan sebagai penyebab tipikal kematian bayi.
“Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI pada 2007, kematian balita akibat diare mencapai 28 persen, sementara pneumonia 20 persen,” ujar Yati dalam acara diskusi media yang diselenggarakan PATH, sebuah organisasi internasional nirlaba yang berfokus pada masalah kesehatan dunia. Rotavirus merupakan penyebab paling umum penyakit diare akut pada anak-anak balita di seluruh dunia.
Menurut WHO, rotavirus menyebabkan kematian sekitar 527.000 anak per tahun. Di Indonesia sendiri, sejak 2001 terdapat tiga proyek pemantauan rotavirus di rumah sakit yang melibatkan lebih dari 5.000 anak. Hasilnya terungkap bahwa rotavirus menyebabkan sekitar 53%, 46%, dan 63% rawat inap serius di tiga rumah sakit tersebut. Persentase rotavirus sebagai penyebab rawat inap diare di Indonesia juga termasuk paling tinggi di Asia, yakni mencapai 60%.
Kendati bukan satu-satunya penyebab, persentase temuan diare yang mengandung rotavirus jauh lebih tinggi dibanding diare akibat virus lain.
“Perbandingannya 84% dibanding 16%. Anak yang positif rotavirus juga berisiko 1,4 kali lebih tinggi untuk terkena diare,” sebut Yati yang menjabat Direktur Center for Clinical Epidemiology and Biostatic di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Diare merupakan suatu kondisi melemahnya tubuh akibat kehilangan banyak cairan (dehidrasi). Diare dapat disebabkan oleh kuman, virus,atau parasit yang menginfeksi saluran cerna dan merusak mukosa usus. Akibatnya, kemampuan usus dalam menyerap makanan menjadi rendah, dan pada akhirnya daya tahan tubuh melemah sehingga rentan terkena infeksi.
“Diare juga kerap dikaitkan dengan malanutrisi alias gizi buruk. Penderitanya memang tetap bertahan hidup, tapi dengan kualitas hidup yang buruk,” tandas dokter anak yang juga berperan menerapkan terapi diare dengan rehidrasi penyelamatan lewat mulut di Indonesia pada 1970-an itu.
Adapun gejala dari diare yang disebabkan rotavirus di antaranya muntah, dehidrasi berat, dan sering buang air besar (BAB), tapi tidak berdarah. Selain saluran cerna, diare dapat menginvasi organ lainnya seperti saluran napas. Perlu diketahui juga bahwa diare akibat rotavirus ini tidak dapat ditangani dengan antibiotik.
Sejauh ini penanganan yang paling sering dilakukan adalah mengupayakan kecukupan cairan, yakni dengan pemberian larutan gula dan garam (oralit). Lebih lanjut Yati menjelaskan, virus ataupun bakteri penyebab diare dapat bertransmisi lewat kontak langsung dengan penderita, cairan seperti ludah atau liur yang terpercik (droplet), ataupun telur cacing dari feses yang terbawa aliran air lantas menempel pada bahan makanan atau minuman yang dikonsumsi orang bersangkutan.
Dengan kata lain, aspek higienisitas dan sanitasi yang buruk ikut andil dalam tingginya angka kejadian diare. Akan tetapi, Yati menyebutkan, upaya pencegahan dengan hidup bersih semisal rajin cuci tangan saja ternyata tidak cukup untuk menghindarkan seseorang dari infeksi rotavirus. Untuk itu, salah satu jurus yang dianggap jitu adalah melalui vaksinasi. Dua vaksin rotavirus terdaftar yang diberikan melalui mulut (oral vaccine), yakni Rotarix dan RotaTeq, menunjukkan kemanjuran dan aman dalam uji coba medis skala besar yang dilakukan di Eropa, Amerika Latin dan Amerika Serikat.
Uji coba di kawasan Asia saat ini juga tengah dilakukan di Bangladesh dan Vietnam, yang diperkirakan dapat mencegah kematian hingga 171.000 jiwa di masing-masing daerah dalam kurun waktu lima tahun. Berdasarkan informasi dalam Journal of Infections Diseases, vaksin rotavirus dianggap potensial mencegah kematian sekitar 225.000 anak per tahun, serta lebih dari 2,5 juta anak di negara-negara miskin pada kurun waktu 2007-2025. Vaksin yang sejatinya sudah ditemukan sekitar 15 tahun lalu, kini sudah digunakan di sekitar 80 negara.
Negara maju seperti Amerika Serikat, bahkan sudah memasukkannya ke dalam program imunisasi nasional wajib sejak 3 tahun silam. Hingga kini, Indonesia masih dalam taraf negosiasi untuk mengupayakan ketersediaan vaksin ini.
“Vaksin rotavirus diberikan pada bayi sebelum umur tiga bulan atau hampir bersamaan dengan pemberian vaksin polio. Pemberiannya cukup sekali seumur hidup,” sebut Communication Officeruntuk Group Immunization Solutions PATH,Deborah Philips.
Walaupun rotavirus menjadi penyebab utama kematian dan rawat inap akibat diare akut yang diderita anak-anak di seluruh dunia, ia bukan satu-satunya penyebab diare akut. Vaksin rotavirus tidak akan mencegah seluruh penyebab diare anak-anak. Pencegahan dan penanganan penyakit diare (seperti terapi oral rehidrasi, menyusui, zinc treatment, vaksin rotavirus dan perbaikan sanitasi) harus terus dilakukan agar secara efektif dapat mengendalikan beragam penyebab diare.
“Pemberian ASI eksklusif pada bayi hingga usia 6 bulan merupakan upaya positif untuk menjauhkan anak dari risiko infeksi seperti diare,” sebut Yati.
sumber: okezone.com
Print This Post
































![kirimkan tulisan anda [Dunia Veteriner]](http://duniaveteriner.com/wp-content/uploads/2009/05/kirim-tulisan1.gif)
![Download [Dunia Veteriner]](http://duniaveteriner.com/wp-content/uploads/2009/12/banner_oke.gif)


No Comments
RSS feed for comments on this post.