Studi Literatur: Patologi, Immunohistokimia dan temuan elektron mikroskop dalam kejadian alami Virulent Systemic Feline Calicivirus pada kucing
- 06.05.09
- dunia veteriner, calici virus, cat flu, penyakit pada kucing kampung
- Comments Off
Abstrak
Infeksi feline calicivirus (FCV) biasanya menyebabkan infeksi saluran respirasi bagian atas dan penyakit mulut, hal ini terjadi pada kucing. Infeksi FVC jarang bersifat fatal, walaupun infeksi ini bersifat virulen dan serotipe sistemik dari FVC dapat menyebabkan alopecia, ulcer cutaneus, edema sub subcutaneus dan kematian yang tinggi pada kucing. Tujuh kucing dengan infeksi VS-FCV alami semuanya mengalami edema subcutan dan ulcer di rongga mulut, dengan ulcer yang bervariasi pada daun telinga, telapak kaki, hidung dan kulit. Beberapa lesio lainnya yang mempengaruhi kucing termaksud pnemoni bronckho intertitialis prankreatitis dan nekrosa limpa.
Antigen viral yang terdapat dalam endotel dari sel epitel yang mempengaruhi jaringan ditentukan oleh pewarnaan immunohistokimia dengan menggunakan monoklonal antibodi FCV. Intranuklear dewasa dan virions intrasitoplasmic dalam sel epitel yang nekrosa dapt teridentifikasi dengan transmisi mikroskop elektron. Infeksi VS-FCV menyebabkan sel epitel sitolisis dan dan sistem vaskular kucing yang peka mengalami gangguan, menuju kearah ulcerasi cutaneus, edema parah dan kematian yang tinggi.
Pendahuluan
Cacacalicivirus atau yang dikenal dengan nama Feline cacacalicivirus (FCV), adalah penyakit yang sering terjadi pada kucing ditandai dengan gangguan pada respirasi bagian atas, pneumonia, oral ulceration (pembentukan lepuh di mulut), & kadang2 arthritis. Terlihat seperti gejala flu ringan dan jarang menyebabkan komplikasi serius. Cacacalici virus adalah virus yang tidak mempunyai enveloped, positif sense, virus RNA rantai tunggal dan termaksud RVHDV.
Calici virus merupakan Suatu penyakit pernapasan disebabkan virus yang umum terjadi pada kucing eksotis dan domestik. Patofisiologi dari penyakit ini adalah sel mengalami citolisis dan infeksinya tersebar pada seluruh jaringan dan dapat menyebabkan penyakit klinis. Sistem yang dipengaruhi oleh virus ini adalah sistem respirasi yang menyebabkan rhinitis (radang selaput lendir hidung), pnemonia intertitial, ulcerasi pada hidung.ophalmitis akut serous conjunctivitis tanpa keratitis, muskuloskeletal-radang sendi akut, ulcerasi grastrointestinal termaksud ulserasi lidah, langit-langit dan bibir. Penyebab dari cacacalici virus adalah suatu RNA virus rantai tunggal yang tidak mempunyai envelope. Virus ini tahan dan relatif stabil terhadap antibiotik. Kucing yang tidak divaksinasi sangat peka terhadap virus ini, selain itu juga jika bersamaan dengan infeksi patogen lainnya (misalnya FHV-1 (feline herpes virus) atau FPV), sanatasi lingkungan yang buruk juga dapat menyebabkan kucing peka terhadap infeksi calicivirus. Diferensial diagnosa dari cacacalicivirus diantaranya adalah virus rhinotracheitis, Chlamydiosis, Bordetella bronchiseptica.
calicivirus menyebar melalui kontak langsung dengan air liur, mata, dan kadang-kadang tinja, dari suatu kucing yang terkena infeksi. FCV dapat bertahan hidup di lingkungan luar selama 8-10 hari pada tempat makanan, tempat sampah, dan pakaian. Banyak kucing yang sudah tertular virus ini selama bertahun-tahun tapi tidak menunjukkan tanda penyakit. Cacacalicivirus umum terdapat pada anak kucing liar.
Materi dan metode
Dua dari tujuh ekor anak kucing yang terjangkit VS-FCV tercakup dalam studi kasus ini. Kucing yang telah terjangkit VS-FCV dapat mempengaruhi 5 diantara 54 hewan yang ada pada suatu area dan terjadi pada periode waktu 1 sampai 3 bulan. Pada setiap wabah yang identik dengan strain cacacalicivirus akan diisolasi lebih dari seekor kucing dan semua kucing yang mempunyai gejala klinis dan anamnese yang sama. Semua kasus ditetapkan dengan isolasi virus dan pengasingkan dari 235 nukleotida region yang di kodekan dengan gen dari kapsid protein viral dari FCV. Pada empat kasus (kucing no 1-4) yang dilakukan di California Universitas Davis. Pada kucing no 5-7, jaringannya didapatkan dari Diagnostik Antech dan IDDEXX Veterinary Servises. Secara acak kucing tersebut di ambil untuk diuji secara kimia dan dari data hematologi yang ada hanya 3 kasus. Secara clinical pathologi ditemukan ketidaklengkapan dan kesembarangan dari pembukaan sehingga tidak dapat dilaporkan pada kasus ini.
Hystologi
Semua contoh jaringan di fiksasi dalam 10% BNF (buffer netral formalin). Jaringan yang terseleksi diawetkan dalam parafin. Bagian dari jaringan yang terseleksi diambil sepanjang 5µm dan di buat dalam bentuk cover glass. Jaringan terseleksi tadi dilakukan pewarnaan dengan pewarnaan hematoxylin dan eosin (HE).
Immunohistokimia
Semua formalin-fixed, sampel jaringan dari kucing yang diawetkan dalam parafin di lakukan pewarnaan immunohistokimia menggunakan monoclonal antibody anti feline cacacalici virus CV8-1A berasal dari ciri monoclonal Inc. bagian (5µm) pada cover glass. Deparaffinized dalam xylene, dan di tempatkan dalam dua bagian yang mengandung 100% etanol. Aktivitas peroxidase endogen adalah dihilangkan dengan 0.3% hidrogen peroksida dalam metanol selama 10 menit yang diikuti dengan penurunan konsentrasi dari etanol dan hidrasi air. Antigen didapatkan dengan cara mengingkubasi selama 7 menit pada suhu ruangan dengan proteinase K (DAKO S3020). Dua bagia dari jaringan tersebut di bilas dengan phosphate-buffered saline (PBS) tiap 5 menit. Antibody primer dicairkan dalam 10% horse-serum untuk mendapatkan hasil konsentrasi protein dari 0.064 mg/ml. kontrol negatif digunakan serum tikus dari isotipe yang sama dari antibody primer dilarutkan pada konsentrasi protein yang sama. Preparat di inkubasi dengan 100 µm preparat yang lain dilarutkan dalam antibody monoclonal atau immunoglobulin G tikus setiap satu jam dalam temperatur ruangan dan kelembapan ruangan. Setelah inkubasi antibody primer, dua bagian preparat dibilas tiap 5 menit dalam tris-bufferd saline dengan tween 20 (TBST) (DAKO S3306). Preparat diberi label dengan DAKO anti-mouse envision. System label dengan HRP (DAKO K4001) tiap 30 menit dalam suhu ruangan diikuti oleh 2 bilasan (tiap 5 menit) dengan TBST. Cromagen (AEC substrate DAKO K3464) diaplikasikan 10 menit sebelum bilasan terakhir dan pewarnaan utama dengan cairan mayers hematoksilin (Sigma Mhs/16), blued dalam PBS untuk 20 detik dan diencerkan dengan penggumpalan media kristal (Biomea Corp. MO3) dan diperbolekan untuk di keringkan dalam piring panas selam 20 menit sebelum preparat penggumpalan permanen dengan Shur Mount (American Master Technologies)
Mikroskop elektron
Untuk transmisi mikroskop elektron (TEM), bagian dari kulit dan hidung pada awalnya direndam dalam 10% BNF kemudian ditransfer ke half-strength-modified Karnovsky fixative sebelum dua kali pencucian dengan 0.2 M sodium cacodylate dan fiksasi akhir dalam 2% osmium petrokside diturunkan dengan 2.5% potasium peroksinide. Setalah fiksasi jaringan dibilas dalam 0.2 M sodium cacodylate dan dehidrasi dinilai melalui seri etanol sebelum infiltrasi dan ditanamkan dalam spurr’s epoxy resin. Bagian yang tebal di gunting, disatukan dalam 150 lubang copper grids, diwarnai dengan 6% methaloniks uranil asetate dan reynold’s lead citrate, dan diuji dalam LEO 905E (Zeiss) transmisi elektron mikroskop dengan kecepatan voltase 60 V. untuk direck elektron mikroskop (DEM), polietilen glikol-presipitasi virus dibiakkan dalam sel ginjal kucing dengan konsentrasi disentrifugasi dalam a Beckman 50Ti fixed angle rotor dalm 220.000 x g untuk 45 menit. Butirannya di resuspensi dalam air destilasi. 5µl aqualiod dari resuspensi butiran-butiran material selanjutnya di campur dengan kuramg lebih 10µl 2% phosphotungstate (PH 7.4) dan ditempatkan diatas sebua karbol stabil formvar grid untuk visualisasi dalam LEO 905E (Zeiss) transmisi mikroskop elektron pada 60 kV.
Hasil
Ulser ditemukan pada semua kucing yang terinfeksi VS FCP, melalui perluasan dan tempatnya bervariasi mencolok. Ditemukan pada sudut mulut, pada dorsal lidah sebagian besar terkena ulser, dan banyak ulser yang tersebar pada langit-langit dan gusi. Sebagian jari kaki terdapat lesi yang berbentuk hiperemi sirkumferensial pada rambut atau bukan rambut, persimpangan dari telapak kaki. Variasi ulser pada rongga hidung dan telinga, dan kulit berambut. Dua kucing mendapat alopecia dari tungkai. Pada semua kucing terdapat edema subkutaneus yang mempengaruhi wajah dan tungkai. Konjungtivitis dari semua kucing berwarna merah dan menebal, pada kulit keras terdapat discharge pada daerah medial kaki. Semua kucing terdapat edema pulmonalis dan empat ekor kucing terdapat pendarahan pada pleura. Multiple, kecil, pankreas terdapat nodul darah dan omentum terdapat nekrosa lemak pada 3 ekor kucing. Konseisten dari histopatologi ditemukan nekrosa epitel dan ulserasi. Ulser dalam rongga hidung, langit-langit, lidah, daun telinga, dan telapak kaki. Lesio pada kulit berambut dengan segmen nekrosis dari epitel pada stratum basal dan stratum pinosum, epitel folikular nekrosa. Lesio pertama ditemukan pada telapak kaki, nekrosa dan netrofil banyak terdapat pada perbatasan antara kulit berambut dan kulit tidak berambut. Pada lesio kronik terdapat banyak penebalan dari epitelium yang nekrosa, dengan degenerasi hidropis daalam lapisan superfisial dan pada bagian luar epitelial sampai pada pinggir dari subepitel. Empat dari tujuh kucing yang diinfeksi VS FCP terdapat pneumonia bronkointertitialis. Dalam sebagian kucing yang diinfeksi ditemukan perluasan dari alveolar interstitium dengan tipe II hiperplasia pneumosit, akumulasi leukosit dalam kapiler alveolar dan mikrotrombin. Variasi alveolar penuh dengan campuran histiosit yang berbuasa, sisa sel atau sel debris, fibrin dan sel darah merah. Pada kasus akut, lesio pada lambung ditandai dengan batas peningkatan akumulasi leukosit yang terdapat dalam kapiler alveol, edema alveoloar regional dan nekrotik epitel sel yang tersebar diantara alveolar. Pada hepatik didapat jarak dari difusi ringan parenkim dengan difusi individuals dari hepatosit untuk meluas ke distrupsi dari lapisan hepatoseluler, dengan fibrin pada sintrasinusoid fibrin banyak ditemukan pada kasus ini. Batas inflamasi dari kelompok kecil intarasinusoid netropil berbatasan membentuk foci nekrotik. Empat dari tujuh kucing terdapat multifokal perakut nekrosis pankreatitis dengan saponitikasi dari perbatasan lemak. sebagian kucing mengalami perluasan limpa dan nekrosis limpoid. Antigen viral yang dideteksi dari daerah kulit, mukosa hidung, mukosa bucal, dan daun telinga, telapak kaki, lambung dan pankreas,. Pewarnaan yang intensif dan proporsional dari sebagian lesi. Yang mudah didapat pada kulit, mukosa atau lesi pada telapak kaki, antigen berbatasan dengan daerah individu atau segmental epitelian nekrosis. Pada beberapa kasus kronik FCV lesio antibodinya dimasukan dalam folikel epitelium yang terdapat pada sel eksokrin pankkreas dan berbatasan dengan daerah yang nekrotik. Dalam lambung mengandung sedikit antigen (evaluasi histologi), sel individu meyebar pada septa alveolar yang mengandung antigen pada beberapa lesio kronik terdapat bronkhointerstitital pneumoni, antigen virus berbatasan dengan sel dari bronkiolus dan sel yang nekrotik dalam lumen bronkiol. Antigen tidak dapat dideteksi pada hati, limpa atau limfonodus.
Mikroskop elektron
Partikel virus yang berdiameter 33,5nm pada lekukan pinggir dan permukaan merupakan tipikal dari caliciviridae, yang dikenal dengan DEM dalam purified VS FCV. Multiple dari jaringan epitel (telapak kaki, rongga hidung, dan lidah dari 2 kasus yang diuji) (kucing nomor 1 dan 3) dengan TEM. VS FCV lesionya diidentifikasi dengan ukuran konsisten (32-35 µm), pusat, elektron–densecore 20 nm, dan less elektron–denseperiphery. Mendapatkan subtansi yang bervariasi dari epitel pada daerah yang terkena infeksi. Bagian dari telapak kaki, virus terkadang dalam kesatuan parakristalin, dapat dideteksi dalan superfiial epitelium dan kesatuan dari epitel nuclei. Dalam suatu kasus kesatuan parakristalin biru berbatasan dengan kucing yang terinfeksi.s (kucing nomor 4) dengan pengujian TEM. Perluasan dari asitektur lhepatik dan sebagian besar hepatosit yang nekrotik dengan penebalan miotokondria, pragmentasui dari nuklei dan distrubsi membran plasma, masa fibrin tersebar dalam parenkim.
Pembahasan
Tulisan ini menggambarkan gejala klinis, immunohistokimia, ultrastruktural dari kucing yang terinfeksi VS-FCV. Kumpulan lesio parah yang meliputi edema wajah dan tungkai, ulcer kulit, telapak kaki, mulut, hidung, lidah dan daun telinga, dan melibatkan perubahan dari visceral dan sistem organ dalam seperti paru-paru, hati, pankkreas, limpa dan limfonodus. Gejala klinik dan lesi dari infeksi VS-FCV seperti hasil dari kombinasi epitelial (citolitic) dan perlukaan endotolial. Antigen virus merupakan kesatuan dari perlukaan epitelial. Antigen yang terlihat adalah nekrotik sel epitelial dari folikel kulit, mukosa, dan kerusakan dari bronkiolus dan septa-alveolar.virus VS-FCV terdapat sitoplasma dari sel eksokrin pankreas dimana virus tersebut berada pada daerah nekrosa. Meskipun serotipe dari calicivirus dideteksi pada perlukaan epitelial mulut (K.west, personal komunikasi). VS-FCV diidentifikasi pada sel endotelial yang ada pada kasus ini. Virus menyebabkan kerusakan vaskular yang digambarkan dengan edema, mikrotrombi dan akumulasi dari fibrin. Antigen virus tidak dapat dideteksi dalam hepatosit juga dalam lesio hepatik yang terjadi pada infeksi VS-FCV kucing salah satunya digambarkan melalui kerusakan iskemik, hal ini dikarenakan virus masuk dan merusak sinusoid endotelial sel atau berefek pada sirkulasi mediator yang diproduksi untuk membentuk infeksi. Sebelumnya studi ultrastruktural FCV mempunyai batas evaluasi dari virus dalam menginfeksi sel darah yang didemontrasikan FCV dengan sitoplasma dari sel darah. Definisi dari identifikasi virus dalam jaringan melalui kehadiran dari kesatuan parakristalin yang berdiameter 32-35nm partikel virus, terkadang kesatuan dari material fibril proviral. Dalam studi ini VS-FCV adalah kesatuan yang membentuk degenerasi dan sitolisis dari folikular, mukosa dan keratinin epitelium. Ternyata ditemukan fositiv dari rantai RNA virus yang berasal dari partikel virus dewasa dengan nukleus dari sel epitel. Analisis dari imunohistokimia yang berasal dari calicivirus kelinci (RVHDV dan EBHV) yang nyata lokasi antigen terdapat pada nukleus dan sitoplasma hepatosit. Studi ultrastruktural (DEM) dari RVHDV disempurakan dengan homogen dari hati yang bagaimanapun tidak dalam kesatuan ultrasin dari jaringan (TEM), meskipun telah dilakukan percobaan dari protein itu sendiri terlihat positif rantai DNA virus yang terdapat dalan nukleus dan infeksi sel, partikel virus dewasa yang berbatasan dengan sitoplasma signifikan dari intranuklear FCV belum begitu jelas. Hal ini dikarenakan fisiologi yang tidak jelas dari envelop nuklear, bagaimanapun terjadi bersamaan dengan filamen virus dan kesatuan parakristalin memberikan kesan bahwa virus bereflikasi dari kejadian pada nukleus selain itu sel mengandung virus dalam nukleus yang tidak ditemukan sitoplasma virus. Pengetahuan tentang patogenesis dari virulens strains FCV sangat sedikit. Caliciviridae menunjukan perbedaaan genetik yang luarbiasa dan kaerakteristik lesi yang mendorong virus ini mudah menyerang kucing.
Kesimpulan
Kumpulan lesio dari infeksi VS-FCV meliputi edema tungkai, ulser kulit, kaki, mulut, hidung, lidah dan daun telinga. Juga melibatkan organ viceral sampai dengan paru, hati, pankreas, limpa dan limfonodus. Tanda klinik dan lesio dari infeksi VS FCV adalah perlukaan endotelial. Antigen virus menyebabkan perlukaan pada epitel dari folikel, kulit, mukosa dan kerusakan bronchiolus serta alveolar. Virus menyebabkan kerusakan vaskular yang di gambarkan dengan edema, mikrotrombi dan akumulasi fobrin. Infeksi VS FCV di tandai juga dengan degenerasi dan citolisis dari folikular mukosa dan keratinizen.
Print This Post
































![kirimkan tulisan anda [Dunia Veteriner]](http://duniaveteriner.com/wp-content/uploads/2009/05/kirim-tulisan1.gif)
![Download [Dunia Veteriner]](http://duniaveteriner.com/wp-content/uploads/2009/12/banner_oke.gif)


No Comments
RSS feed for comments on this post.