Studi Literatur: Enterobacter sakazakii

susu_dotPENDAHULUAN

Setiap individu yang baru lahir (bayi) memerlukan sumber nutrisi yang sangat baik dan sesuai dengan kondisi tubuhnya. Oleh karena sistem pencernaannya yang belum sempurna maka sumber nutrisi tersebut harus berupa cairan yang mudah diserap oleh tubuh. ASI adalah sumber nutrisi yang sempurna dengan keseimbangan zat-zat gizi yang terkandung di dalamya. Karena telah diramu secara istimewa, ASI merupakan makanan yang paling mudah dicerna bayi. Meskipun sangat kaya akan zat gizi, ASI sangat mudah dicerna sistem pencernaan bayi yang masih rentan. Karena itulah bayi mengeluarkan lebih sedikit energi dalam mencerna ASI, sehingga ia dapat menggunakan energi selebihnya untuk kegiatan tubuh lainnya, pertumbuhan dan perkembahan organ. Akan tetapi tidak semua ibu dapat memberikan/menghasilkan ASI yang diperlukan bayi, disebabkan oleh beberapa faktor. Sebagai alternatif maka kaum ibu biasanya memilih produk formula susu bayi (powdered infant formula).

Sayangnya tidak semua produk susu olahan ini sepenuhnya steril. Banyak diantaranya yang masih mengandung bahan-bahan berbahaya dan bahkan mengandung mikroorganisme patogen. Baru-baru ini dilaporkan bahwa PIF (formula susu bayi) masih mengandung Enterobacter sakazakii, yaitu bakteri patogen yang dapat menginfeksi semua umur, terutama bayi. Sejauh ini belum banyak studi yang menganalisa ekologi, taksonomi, virulensi maupun karakteristik yang lainnya dari bakteri ini. Adapun manifestasi klinis akibat infeksi ini antara lain sepsis, meningitis, cerebritis dan enterokolitis nekrotik.

Penyakit ini pada umumnya sering terjadi di negara-negara berkembang. Lemahnya pengawasan terhadap kualitas dan keamanan produk serta kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ASI menjadi penyebab utama kejadian penyakit. Untuk itu quality control terhadap mutu dan keamanan produk selama produksi maupun distribusi mutlak diperlukan disamping perlunya penanaman kesadaan masyarakat mengenai pentingnya ASI bag pertumbuhan dan perkembangan bayi.


PEMBAHASAN
Enterobacter sakazakii
Enterobacter sakazakii merupakan bakteri batang gram negatif dari famili Enterobacteriaceae. Klasifikasi E. sakazakii menurut Scimat (2005) adalah sebagai berikut :
Bacteria
Proteobacteria
Gammaproteobacteria
Enterobacteriales
Enterobacteriaceae
Enterobacter
Enterobacter sakazakii

Sampai tahun 1980 bakteri ini dikenal sebagai “yellow pigmented Enterobacter cloacae” ketika pertama kali diperkenalkan sebagai spesies baru berdasarkan perbedaan hibridisasi DNA, reaksi biokimia dan kepekaan terhadap antibiotik. Bakteri ini kemudian dinamai E. sakazakii sebagai penghargaan terhadap ahli bakteriologi asal Jepang, Riichi Sakazaki. Meskipun jarang, tetapi bakteri ini dapat mengancam kesehatan dengan beberapa gejala penyakit yang ditimbulkan seperti meningitis, sepsis dan enterokolitik nekrotik (Anonim 2002). Dilaporkan tingkat kefatalan tertinggi terjadi pada bayi baru lahir (neonatal) sebesar 33% (Taylor 2002). Pada individu dewasa meskipun jarang, juga dapat menimbulkan gejala penyakit bakteremia dan osteomyelitis.

Tipe meningitis
E. sakazakii dapat menyebabkan abses otak atau infark dalam bentuk kista dan kerusakan saraf yang parah. Beberapa hasil penelitian melaporkan kandungan bakteri E. sakazakii yang dapat ditemukan berkisar antara 0,36 – 0,66 CFU/100g. E. sakazakii dapat diisolasi dari berbagai sumber diantaranya tanah, tikus, lalat, mug bir, pabrik susu bubuk, pabrik cokelat serta dari limbah rumah tangga ( Forsythe 2005).

Dampak E. sakazakii Terhadap Kesehatan
Bakteri E. sakazakii dapat menyerang semua umur, akan tetapi bayi neonatal (berumur kurang dari 1 tahun) adalah yang paling peka/suseptibel terhadap penyakit ini. Penderita akan menunjukkan gejala meningitis, sepsis, cerebritis dan enterokolitis nekrotik. Dilaporkan bahwa 20% hingga 50% bayi yang diduga terinfeksi meninggal, sedangkan bayi yang berhasil sembuh kemungkinan akan mengalami kerusakan syaraf. Beberapa individu yang memiliki resiko paling tinggi terinfeksi bakteri E. sakazakii diantaranya adalah :
• Bayi berumur 28 hari post natal (setelah kelahiran)
• Bayi yang lahir prematur
• Bayi dengan berat kelahiran yang rendah
• Bayi penderita gangguan sistem kekebalan (imunsupresif)
• Bayi yang ibunya positif HIV-AIDS
Pada dasarnya cemaran bakteri E. sakazakii terhadap susu bubuk bayi ada beberapa cara (Anonim 2004) antara lain : melalui kontaminasi bahan dasar yang digunakan untuk membuat susu bubuk bayi ; melalui kontaminasi susu bubuk dengan beberapa komposisi susu bubuk setelah proses pasteurisasi ; dan melalui kontaminasi susu bubuk oleh pengasuh bayi sebelum susu dikonsumsi bayi.

Upaya Pencegahan dan Pengendalian
Beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan menurut Taylor (2002) antara ain :
• hanya mempersiapkan formula susu dalam jumlah yang sedikit untuk tiap konsumsi guna mengurangi jumlah bakteri dan waktu kontak dengan suhu kamar; kenali perbedaan penyiapan formula susu bayi di rumah sakit, dimana biasanya mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh institus tersebut untuk meminimalisir pertumbuhan mikroba pada susu.
• Kurangi waktu kontak dengan suhu ruangan atau di luar suhu lemari pendingin sebelum pemberian pada bayi.
• Kurangi masa penyimpanan pada suhu ruangan lebih dari 4 jam untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang signifikan.
Sedangkan Forsythe (2005) mengatakan bahwa diperlukan quality control mikrobiologi yang ketat selama proses produksi, distribusi dan penggunaan. Sangat penting memastikan bahwa formula susu bayi disiapkan secara good hygienic procedure serta meminimalisir jarak waktu antara penyiapan dan konsumsi untuk mengurangi resiko terinfeksi E. sakazakii. Selain itu dia juga menambahkan bahwa higiene personal yang sering diabaikan serta buruknya hygienic practice menjadi penyebab utama terjadinya kasus penyakit. Hingga saat ini belum pernah dilaporkan adanya infeksi E. Sakazakii ditemukan pada produk pangan lain selain susu bubuk bayi.

KESIMPULAN
E. sakazakii merupakan bakteri batang gram negatif yang motil dan bersifat anaerob fakultatif. Bakteri ini tahan terhadap proses pemanasan sehingga memungkinkan masih terkandung pada formula susu bayi. Bayi neonatal sangat peka terhadap infeksi bakteri ini, sehingga diperlukan quality control mikrobiologi yang ketat selama proses produksi, distribusi dan penggunaan. Sangat penting memastikan bahwa formula susu bayi disiapkan secara good hygienic procedure serta mmeminimalisir jarak waktu antara penyiapan dan konsumsi untuk mengurangi resiko terinfeksi E. sakazakii.

  • Share/Bookmark
Print This Post Print This Post

Baca juga artikel lainnya :

No Comments

Comments are closed.

RSS feed for comments on this post.