Harga Susu tidak Menguntungkan, Peternak Mulai Jual Sapi Perah

Penurunan harga pembelian susu oleh PT Nestle Indonesia mulai berdampak buruk pada usaha ternak sapi perah di Jawa Timur. Saat ini, para peternak mulai menjual sapi perahnya meski itu merupakan aset usaha utama mereka.

Menurut Sunaryo, Ketua Koperasi Usaha Tani Ternak Wahyu Mulya, di Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulung Agung, Jawa Timur, di kecamatannya sedikitnya ada empat peternak yang menjual sapi perah karena usahanya dianggap tidak menguntungkan sejak penurunan harga beli susu.

”Sapi perah yang dijual itu ada yang dibeli peternak lain, yang berharap akan ada perubahan harga, ada pula sebagian yang dijadikan sapi potong,” tutur Sunaryo, Kamis (7/5) di Tulung Agung.

Menurut dia, alasan peternak menjual sapi perah karena merugi. Harga susu segar terus merosot, sementara harga pakan terus meningkat.

Saat ini, peternak di Tulung Agung memasok susu sekitar 100 ton per hari ke industri pengolahan susu (IPS) melalui koperasi. Rata-rata produktivitas susu sapi per ekor 10-12 liter, dengan kualitas rata-rata pada kualitas 2 dan 3. Dengan kondisi saat ini, harga susu segar kualitas 2 dan 3 berkisar Rp 2.500- Rp 3.000 per liter.

Dengan kepemilikan sapi rata- rata dua ekor dan laktasi (sapi menyusui) seekor, pendapatan kotor peternak hanya Rp 27.500- Rp 33.000 per kilogram per hari. Adapun pengeluaran untuk pakan, seperti konsentrat, Rp 15.000 per hari. Belum untuk mineral dan pakan hijauan.

Manajer Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Daerah Jawa Timur Sulistiyanto mengatakan, tanpa ada dukungan konkret dari pemerintah untuk memberikan stimulus dalam bentuk subsidi harga dan pengadaan sapi, usaha ternak dalam negeri akan tinggal kenangan.

Berdasarkan catatan Kompas, IPS terus menurunkan harga beli susu segar dari GKSI. Dari lima perusahaan pengolahan susu besar yang tergabung dalam IPS, Nestle sudah dua kali menurunkan harga beli susu segar.

Dalam lima bulan ini, Nestle menurunkan harga beli susu dua kali, yakni Rp 200 per kg pada Desember 2008 dan Rp 150 per kg pada Mei 2009.
Head of Public Relation PT Nestle Indonesia Brata T Hardjosubroto mengatakan, penurunan harga beli itu karena terjadi penurunan harga susu dunia dan penurunan daya beli masyarakat terhadap produk susu. (MAS)

sumber: kompas.com

  • Share/Bookmark
Print This Post Print This Post

Baca juga artikel lainnya :

No Comments

Comments are closed.

RSS feed for comments on this post.