Studi pustaka: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Cestodosis Pada Ayam Buras

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Infeksi oleh cacing pita (Cestodosis) banyak ditemukan pada ternak ayam terutama ayam buras yang dipelihara secara tradisional. Hal ini disebabkan karena ternak memiliki kontak langsung dengan lingkungan dan serangga yang cocok sebagai inang antaranya. Cacing pita umumnya menyerang ayam petelur dan ayam buras (ayam kampung) sedangkan ayam pedaging dengan umur panen yang pendek memiliki kemungkinan kecil terhadap infeksi cacing pita (Sarwono 1990).
Kejadian Cestodosis pada ayam buras di Jawa Barat cukup tinggi yaitu sebesar 36-100% (Kusumamihardja, 1992). Lebih khusus lagi He et al. (1991) melaporkan bahwa prevalensi infeksi cacing pita pada ayam buras yang berasal dari Bogor dan sekitarnya dapat mencapai 89,7%. Penurunan berat karkas ayam buras yang terinfeksi cacing diperkirakan mencapai 2240-134 juta kg atau senilai 4,48-6,29 milyar rupiah atau US $ 2.49- 3.49 juta per tahun (He et al. 1991). Prevalensi Cestodosis pada ayam kampung di berbagai wilayah di Indonesia masih relatif tinggi hingga sekarang (Herwintarti 2001). Jenis cacing pita yang paling tinggi menginfeksi saluran pencernaan yaitu Raillietina echinobothrida (52,8%).
Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Cestodosis pada ayam buras.

TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi dan Ciri-Ciri Umum Cacing Pita
Klasifikasi modern menurut Wardle & McLeod (1974), cestoda termasuk ke dalam Phylum Platyhelminthes dibagi menjadi 2 kelas yaitu cotyloda dan eucestoda. Cotyloda terdiri dari 6 ordo, namun yang paling sering dipelajari adalah Diphyllidea. Eucestoda atau cacing pita terdiri dari 15 ordo, 7 ordo merupakan parasit penting pada hewan maupun manusia.
Cacing pita adalah cacing pipih dorsoventral yang berbentuk pita memanjang dan memiliki segmen-segmen, merupakan parasit dalam saluran pencernaan (Soulsby 1982). Cacing pita bersifat hermafrodit yaitu organ reproduksi jantan dan betina terdapat pada setiap segmen dewasa.
Bagian-bagian tubuh cacing pita terdiri dari skoleks, leher dan strobilla. Skoleks dilengkapi dengan empat batil isap dan rostellum yang digunakan sebagai alat untuk menempel pada mukosa usus inangnya. Pada batil isap dan rostellum dilengkapi juga dengan kait-kait tetapi tergantung pada spesiesnya. Bagian leher adalah bagian yang paling aktif dalam pembentukan segmen baru. Strobilla adalah bagian tubuh cacing pita yang paling besar yang terdiri dari segmen-segmen. Strobilla terdiri dari segmen muda, segmen dewasa dan segmen gravid.
Pertumbuhan normal cacing pita dewasa memiliki tiga stadium perkembangan segmen yaitu muda (immature), dewasa (mature) dan gravid. Segmen muda memiliki ciri morfologi yaitu adanya perkembangan awal dari organ reproduksi, sedangkan segmen dewasa perkembangannya sudah sempurna dan lengkap. Morfologi segmen dewasa sering digunakan sebagai salah satu kriteria untuk mengidentifikasi cacing pita. Segmen gravid membentuk kantung-kantung yang penuh berisi telur. Segmen gravid akan mengalami proses destrobilisasi dan keluar bersama-sama tinja inang definitif. Tinja inang inilah yang menjadi pembawa sumber infeksi yang sangat potensial (Retnani & Hadi 2007).
Siklus Hidup Cacing Pita pada Ayam
Cacing pita merupakan cacing yang menginfeksi ayam dan memerlukan serangga sebagai inang antaranya (Soulsby 1982). Peluang kontak ayam terhadap inang antara yang paling potensial adalah keberadaan dan volume tinja, sedangkan kondisi lingkungan dan manejemen peternakan merupakan faktor pendukung.
Cacing pita dewasa hidup didalam lumen usus halus dengan skoleksnya melekat pada mukosa usus. Habitat cacing ini biasanya pada usus halus bagian illium, tetapi dapat pula ditemukan di dalam jejunum dan duodenum bahkan kadang-kadang berada di dalam kolon. Segmen gravid yang mengandung telur dikeluarkan bersama tinja dari tubuh ayam yang terinfeksi cacing pita ke lingkungan bebas.
Inang antara yang cocok akan memakan segmen gravid. Telur cacing tersebut akan menetas dalam saluran pencernaan inang antara dan membebaskan embrio (onkosfer), kemudian akan penetrasi pada dinding usus dan masuk ke dalam rongga tubuh yang membutuhkan waktu selama 12 jam. Dalam jangka waktu tiga minggu embrio tersebut akan berkembang menjadi sistiserkoid. Sistiserkoid merupakan stadium infektif yang akan tinggal tetap di dalam tubuh inang antara sampai inang antara tersebut dimakan oleh inang definitif dalam hal ini adalah ayam.
Ayam akan terinfeksi cacing pita apabila memakan inang antara yang mengandung sistiserkoid. Selanjutnya proses pertumbuhan cacing diawali dengan penempelan (attachment) bahkan penancapan bagian skoleks pada mukosa usus. Hal itu dilakukan agar cacing tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan memakan nutrisi makanan yang ada di dalam usus. Setelah penancapan skoleks maka cacing akan berkembang melalui proses proglotidisasi dan selanjutnya tumbuh menjadi cacing pita dewasa di dalam usus (Retnani & Hadi 2007).
Patogenesis Cacing Pita pada Ayam
Tidak semua cacing pita unggas bersifat patogen. Gejala klinis dapat terlihat pada ayam muda yang menderita infeksi berat (Suwarti 1990). Ayam muda lebih peka terhadap infeksi cacing pita dibandingkan ayam dewasa. Akibat infeksi cacing pita pada usus akan terlihat adanya enteritis baik akut maupun kronis yang tergantung dari derajat infeksinya. Terjadinya peradangan pada bagian serosa disebabkan tertanamnya skoleks cacing menempal pada mukosa usus. Raillietina paling sering ditemukan dan merupakan cacing pita yang dominan menginfeksi ternak ayam (Retnani & Hadi 2007). Jenis cacing Choanotaenia infundibulum, Amoebotaenia cuneata, Metroliasthes lucida dan Fimbriaria fasciolaris kurang patogen.
Davainea proglottina adalah cacing pita dengan patogenitas yang sangat berbahaya pada ayam (Kusumamihardja 1992). Cacing jenis ini paling patogen karena bagian skoleksnya melakukan penetrasi ke dalam mukosa duodenum dan menyebabkan terjadinya enteritis hemoragis yang berat. Selain itu, cacing ini juga dapat menimbulkan gejala klinis kekurusan, berat badan menurun, bulu kering dan rontok serta nafas menjadi sesak pada ayam.
Raillietina echinobothrida dan Raillietina tetragona tingkat patogenitasnya berada di bawah Davainea proglottina. Dua jenis cacing ini menancapkan skoleksnya tidak terlalu dalam pada mukosa usus seperti cacing Davainea proglottina (Kusumamihardja 1992). Cacing pita ini juga dapat menyebabkan terbentuknya nodul-nodul pada sekitar dinding saluran pencernaan ayam.
Raillietina cesticillus adalah cacing yang kurang patogen dibandingkan dengan spesies Raiilietina yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, jumlah cacing yang tinggi dalam usus dapat menyebabkan terjadinya penebalan mukosa usus. Pada kasus yang berat dapat memacu terjadinya enteritis kataral atau hemoragis pada kasus yang berat, dimana mukosa usus tertutup oleh lendir yang tebal (Kusumamiharja 1992).

PEMBAHASAN
Diagnosis Cacing Pita
Infeksi cacing saluran pencernaan pada umumnya mudah didiagnosis melalui pemeriksaan tinja hewan yang dicurigai terinfeksi. Tidak demikian dengan Cestodosis yang memiliki tingkat kesulitan tersendiri untuk didiagnosis karena cacing pita tidak mengeluarkan telur bersama tinja. Nekropsi merupakan cara terbaik yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis Cestodosis. Kendala ini mengakibatkan angka prevalensi Cestodosis akan semakin tinggi serta menyulitkan dalam menentukan strategi pengobatan (Retnani & Hadi 2007).
Kusumamihardja (1992) melaporkan bahwa cacing pita yang paling banyak menginfeksi ayam kampung di daerah Jawa barat dan Jawa tengah adalah cacing pita Raillietina spp. Dari hasil nekropsi yang dilakukan pada tiga ekor ayam kampung milik laboratorium Helmithology ditemukan adanya infeksi cacing pita pada usus halus (cestodosis).
Infeksi cacing pita akan mengakibatkan timbulnya gejala klinis yaitu kekurusan, kelesuan dan anemia. Kadang-kadang disertai dengan diare berdarah dan dehidrasi. Selain itu gejala klinis yang dapat ditemukan pada ayam yang terinfeksi sestodosis ini adalah juga tergantung dari status nutrisi ayam. Secara umum, ayam yang menderita sestodosis, akan memperlihatkan gejala seperti pertumbuhan terlambat, nafsu makan berkurang, emasiasi pada ayam yang masih muda. Sedangkan untuk ayam dewasa, produksi telur akan berkurang

Faktor-faktor yang mempengaruhi Cestodosis pada ayam Buras
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kejadian cestodosis pada ayam buras yaitu manejemen cara pemberian pakan, kebersihan dan sanitasi lingkungan di sekitar kandang, waktu pembuangan feses dan pembersihan kandang, cuaca dan iklim, pemberian antibiotik atau vaksinasi terhadap ayam secara rutin. Manejemen peternakan tersebut tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Sekalipun sanitasi dan kebersihan lingkungan kandang sudah terjaga dengan baik namun bila faktor-faktor lain tidak diperhatikan maka dapat menyebabkan terjadinya infeksi cacing pita pada ayam buras dan ayam ras.
Faktor pendukung perkembangan populasi cacing adalah suhu lingkungan, pH lingkungan, kelembaban, curah hujan serta radiasi sinar matahari baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk mempertahankan siklus hidupnya. Untuk pertumbuhan larva sestoda dalam telur diperlukan tanah yang lembab dan tidak membutuhkan adanya genangan air.
Mpoame & Agbede (1995) mengatakan bahwa infeksi cacing pita secara umum sangat tinggi pada daerah dengan kondisi yang basah. Daerah basah merupakan kondisi iklim yang baik untuk ketahanan parasit stadium infektif dan untuk pertumbuhan populasi inang antaranya. Begitu pula dengan Terrigino et al. (1997) mengatakan bahwa infeksi parasit pada wilayah dengan kondisi pertanian dan iklim yang buruk akan menguntungkan untuk ketahanan dan pertumbuhan parasit. Perbedaan yang signifikan terhadap tingginya prevalensi parasit pada ayam terjadi antara peternakan tradisional dan peternakan modern. Hal ini disebabkan adanya perbedaan dalam penanganan higienis dan sanitasi lingkungan serta manejemen peternakan (tradisional dan modern).
Kejadian infeksi alami cacing pita yang cukup tinggi, berkaitan dengan tersedianya inang antara spesifik seperti lalat rumah, semut dan kumbang yang berperan dalam penyebaran cacing pita. Menurut Angraeny (2007), jumlah lalat rumah yang tinggi di area peternakan dapat menyebabkan semakin meningkatnya kejadian Cestodosis. Gaina (2007) juga mengukapkan bahwa semakin tinggi jumlah inang antara spesifik cacing pita dalam hal ini kumbang dapat menyebabkan semakin meningkatnya kejadian Cestodosis.
Setiap spesies cacing pita memiliki inang antara yang spesifik dan berbeda-beda. Keberadaan inang antara yang beraneka ragam dengan populasi yang tinggi di lingkungan peternakan akan menyebabkan semakin meningkatnya kejadian Cestodosis pada peternakan ayam baik ayam kampung maupun ayam ras. Manfaat pengetahuan jenis-jenis cacing pita adalah untuk mengetahui apakah cacing pita yang ditemukan dalam saluran pencernaan ayam bersifat patogen atau tidak. Hal tersebut bertujuan sebagai petunjuk dalam tindakan pengendalian terhadap induk semang antara sebagai sumber infeksi.

Pengendalian cestodosis
Pengendalian penyakit cacing pita ini dapat dilakukan dengan memutuskan siklus hidup dari induk semang antaranya. Infeksi telur cacing dalam tubuh ternak dapat diatasi dengan pemberian obat cacing dan pemeliharaan kandang secara intensif. Sanitasi yang baik dari kandang unggas dan kontrol terhadap tingginya jumlah inang antara. Rotasi penggunaan halaman sebaiknya diperhatikan untuk meminimalkan jumlah telur cacing yang mengkontaminasi lingkungan. Pengendalian inang antara dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Selain pencegahan dapat dilakukan dengan melaksanakan sanitasi dan hygiene lingkungan, tata laksana kesehatan hewan dan program vaksinasi untuk mengurangi meluasnya penyebaran penyakit yang terus-menerus pada ayam kampung.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kejadian cestodosis pada ayam buras yaitu manejemen cara pemberian pakan, kebersihan dan sanitasi lingkungan di sekitar kandang, waktu pembuangan feses dan pembersihan kandang, cuaca dan iklim, pemberian antibiotik atau vaksinasi terhadap ayam secara rutin.

Saran
Kejadian cestodosis pada ayam buras dapat ditekan dengan melakukan pencegahan penyebaran inang antara disekitar kandang dan perbaikan manejemen kandang serta sanitasi lingkungan dan pakan yang harus diperhatikan dengan serius. Perlu dilakukan vaksinasi sebagai tata laksana kesehatan hewan untuk mengurangi meluasnya penyebaran penyakit yang terus-menerus pada ayam kampung.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimus.2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas.http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/b5unggas.[06 Mei 2008].
Angraeny D. 2007. Potensi lalat rumah (Musca domestica: Muscidae) sebagai inang antara cacing pita pada ayam petelur di Kabupaten Bogor [Skripsi]. FKH-IPB.
Gaina CD. 2007. Potensi Alphitobius Spp (Coleoptera: Tenebrineonidae) sebagai inang antara cacing pita pada ayam petelur di Kabupaten Bogor [Skripsi]. FKH-IPB.
Gillespie, James. 1992. Livestock and Puoltry Production. 4th. Canada: Delmar.
He S, Susilowati VEHS, Tiuria R & Purwati E. 1991. Taksiran kerugian produksi daging akibat infeksi alamiah cacing saluran pencernaan pada ayam buras di Bogor dan sekitarnya. Seminar parasitologi Nasional VI dan Kongres P4 IV. Kumpulan abstrak.

Herwintarti, 2001. Pengaruh Pemeliharaan di Kandang dan di Umbar terhadap Fluktuasi Populasi Cestoda pada Ayam Kampung di Wilayah Kabupaten Bogor. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Kusumamihardja S.1992. Parasit dan parasitosis pada aneka ternak dan hewan piaraan. Pusat Antar Universitas. Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor.

Mpoame M & G Agbede. 1995. The gastro-intestinal helminth infections of domestic fowl in Dschang, Western Cameroon. Revue Elev. Med. Vet. Pays trop.48(2) :147-151.

Retnani E & Hadi UK. 2007. Beberapa aspek Cestodosis dan peran serangga yang berpotensi sebagai inang antaranya pada ayam petelur [Laporan Akhir Penelitian]. Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

Sarwono B. 1990. Beternak ayam Buras. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.

Soulsby EJL. 1982. Helminths, arthropods, and protozoa of domesticated animals. 7th Ed Lea & Fabiger. Philadelphia.

Terrigino C, E Catelli, G Poglayen, A Tdnelli & OI Gadale. 1999. Preliminary study of the helminths of the chilcen digestive tract in Somalia. Revue d’Elevage et de medicine Vet des Pays Tropicaux. 52 (2). 107-11L.

Wardle, R. A. , J. A. Mcleod, dsn S. Radinowsky. 1974. Advancesin The Zoology Of Tapeworms, 1950-1970. University Minn Press, Minneapolis.

  • Share/Bookmark
Print This Post Print This Post

Baca juga artikel lainnya :

No Comments

Comments are closed.

RSS feed for comments on this post.