Sinergi Atasi Tuberculosis

Redaksi
Tanggal 24 maret yang lalu adalah tepat sudah 126 tahun hari tuberculosis (Tb) sedunia diperingati. Tb merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan mudah menular. Setiap tahunnya, di Indonesia diperkirakan 100.000 orang meninggal karena penyakit ini.
Menurut data dari WHO(Organisasi kesehatan dunia) pada tahun 2006 terdapat sekitar 14 juta penduduk dunia terinfeksi Tb. Sebanyak 9,2 juta diantaranya adalah kasus Tb baru. Keberadaan para penderita Tb tersebut tersebar di beberapa negara termasuk Indonesia.
Indonesia bahkan masih menjadi nomor tiga didunia sebagai penyumbang kasus Tb setelah India dan China. Tidak tanggung-tanggung, total jumlah penderita Tb di Indonesia saat ini diperkirakan 578.410 orang atau kematian rata-rata 240 orang per hari.
Pemerintah melalui departemen kesehatan telah melakukan berbagai kegiatan untuk menanggulangi Tb. Kampanye dengan jargon “awasi gejala tiga B (Bukan batuk biasa)” yang merupakan gejala awal dari Tb telah di sampaikan diberbagai media massa, baik cetak maupun elektronik.
Namun, keberhasilan upaya penanggulangan tersebut tidak akan pernah maksimal tanpa mendapat dukungan dari berbagai sektor. Terutama keterpaduan (sinergitas) antara dua sektor medis yakni tenaga kesehatan pada manusia (dokter, ahli kesehatan masyarakat dll) dengan tenaga kesehatan pada hewan (dokter hewan, paramedic veteriner dll). Hal ini perlu dilakukan mengingat Tb merupakan salah satu penyakit zoonosis (penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya).
Artinya, Tb pada manusia tidak akan pernah optimal berhasil ditanggulangi, jika Tb pada hewan (seperti monyet, kera/hewan primata, sapi dan hewan lainnya) tidak berhasil ditanggulangi.
Selama ini, informasi tentang pentingnya penanggulangan Tb pada hewan masih sangat minim. Sehingga tidak mengherankan jika masih banyak masyarakat yang kurang peduli terhadap Tb pada hewan. Padahal bisa jadi, awal penularan Tb pada manusia berasal dari hewan dilingkungan sekitarnya, bukan berasal dari antar manusia. Untuk itulah, kiranya masyarakat perlu memperhatikan tentang pentingnya kesehatan hewan
Selain itu, seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan. Pemahaman kesehatan tidak lagi sempit (an large definition) atau hanya terbatas pada obat dan rumah sakit saja. Namun lebih dari itu, pemahaman tentang kesehatan harus komprehensif (menyeluruh), bahwa kesehatan harus dilihat sebagai bagian terintegral antara kesehatan pada manusia dengan kesehatan lingkungannya (hewan).
Dengan demikian, sudah sepantasnya jika pemerintah harus serius dalam memberikan kewenangan (Otoritas) kepada profesi dokter hewan. Mengingat sampai saat ini belum ada otoritas veteriner dan payung hukum (Undang-undang Veteriner) yang kuat sebagai dasar hukum profesi dokter hewan di Indonesia.
Padahal permasalahan kesehatan hewan, terutama terkait dengan zoonosis seperti flu burung, rabies, antraks, leptospirosis dan masih banyak lainnya merupakan permasalahan bangsa yang harus di tangani berdasarkan kepada keahlian keprofesian. Apalagi menurut OIE (Organisasi kesehatan hewan dunia) tidak kurang dari 70% penyakit infeksius pada manusia berasal dari hewan atau bersifat zoonosis.

Iwan Berri Prima, SKH
Mahasiswa Program Pendidikan Profesi
Dokter Hewan
FKH IPB, Bogor.

Sumber: Koran Harian Sinar Harapan, edisi 25 maret 2008

  • Share/Bookmark
Print This Post Print This Post

Baca juga artikel lainnya :

No Comments

Comments are closed.

RSS feed for comments on this post.