Saat parasit bertempat di tubuh ternak

Penyakit parasit, baik endoparasit maupun ektoparasit merupakan penyakit yang sering kali kurang mendapat perhatian yang serius oleh peternak dibandingkan dengan penyakit infeksius akibat Virus, Bakteri dan lainnya. Hal ini sangat beralasan mengingat jika penyakit tersebut murni disebabkan oleh parasit atau tidak adanya infeksi sekunder, biasanya akan bersifat kronis, sehingga tidak banyak peternak yang mengobati penyakit ini sebelum terjadi kondisi kronis tersebut. Bahkan keberadaan penyakit ini kadang tidak diketahui oleh peternak. Selain itu, tingkat mortilitas dan morbiditas penyakit parasitik pun kadang tidak terlalu signifikan, demikian menurut DR.Drh.F.X Koesharto,MSc ahli parasit FKH IPB. Namun demikian, ia menambahkan, penyakit parasitik ini jika dicermati lebih jauh, justru akan mengakibatkan kerugian ekonomi peternakan yang cukup besar. Sehingga tidak jarang pula banyak peternak yang kerugian akibat terjadi penurunan produksi peternakannya oleh parasit yang menyerang ternaknya.
Saat ini masih banyak penyakit parasitik yang menjadi ancaman para peternak, seperti penyakit endoparasit yakni Fasiolosis dan Ascariosis yang menyerang terutama pada hewan ruminansia. Demikian pula dengan penyakit ektoparasit seperti Scabies terutama pada kambing dan penyakit miasis. Penyakit ini erat kaitannya dengan caplak dan lalat. yakni terutama caplak, selain merugikan secara langsung, caplak juga dapat menjadi vektor penyakit. Bahkan penyakit seperti Trypanosomiosis dan Theleriosis adalah penyakit yang menyangkut dengan vektor. Menurut dokter hewan angkatan I FKH IPB ini upaya dalam pemberantasan vektor perlu dilakukan. Tetapi tidak hanya melihat pada satu aspek atau tidak berpatokan hanya pada jumlah banyaknya vektor yang ada, tetapi efektivitas dari vektor tersebut.

Masalah Penyakit Miasis
Mengenai penyakit miasis DR.Drh.F.X Koesharto,MSc menjelaskan bahwa miasis adalah infestasi baik pada ternak (hewan vertebrata) maupun manusia oleh larva Ordo Diptera, yang paling sedikit selama periode tertentu, dengan memakan jaringan hidup atau mati dari hospes, bahan-bahan cairan tubuh atau makanan yang ditelan. Penyebab utama dari penyakit ini adalah kesalahan dalam menejemen peternakan seperti kepadatan populasi, sehingga memungkinkan sapi berkelahi atau sapi menggesekkan badannya didinding yang mengakibatkan terluka (trauma)serta dapat pula akibat gigitan serangga, terutama caplak. Bahkan dapat terjadi pula setelah sapi melahirkan (post partus) atau penyakit reproduksi yang lain seperti prolapsus uteri yang meninggalkan perlukaan. Dari adanya perlukaan tersebut, lalat akan hinggap dan menginfestasi berupa larva kedalam luka tersebut. Adapun lalat yang umum ditemukan adalah lalat dari Genus Chrysomia.
Lebih jauh staf pengajar yang pernah mengenyam pendidikan di Filiphina ini menjelaskan bahwa gejala klinis adanya miasis adalah secara umum hewan terlihat Lesu, Nafsu makan kurang, Bobot badan menurun cepat. Sedangkan pada ternak Domba, domba akan terlihat menjilat dan menggigit bagian luka, selalu gelisah, mengibas ekor, dan biasanya ditemukan larva merayap pada wol atau sela-sela rambutnya. Sehingga jika tidak segera ditangani, maka peternak dapat mengalami kerugian akibat miasis yaitu : terjadi malnutrisi, produksi susu dan daging turun, Kualitas wol turun bahkan jika penyakit tidak diobati hewan ternak dapat mengalami kematian.
Upaya Penanggulangan Miasis
Langkah yang paling tepat dalam penanggulangan miasis adalah dengan meningkatkan pengelolaan ternak atau meningkatkan menejemen peternakan. Langkah ini dapat dilakukan terutama oleh pemerintah dengan cara melakukan penyuluhan kepada peternak akan pentingnya fungsi menejemen peternakan. Adapun cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan cara menekan populasi lalat, khususnya lalat penyebab miasis, mengobati luka sekaligus membunuh larva. Dalam membunuh larva dapat menggunakan Insektisida, antibakteri atau zat-zat tertentu yang dapat membunuh larva. Ketika ditanya contoh zat-zat tersebut, pak koes demikian panggilan akrabnya menjawab, sebaiknya zat-zat tersebut merupakan zat yang tidak mahal harganya dan tidak sulit didapatkan atau banyak terdapat disekitar tempat tinggal peternak. Contohnya adalah tembakau. Tembakau direndam dengan air dan air hasil rendamannya dapat disiramkan atau disemprotkan keluka atau larva.
Selain itu, tindakan menekan populasi caplak juga perlu dilakukan. Mengenai tehnisnya dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida yang diaplikasikan secara dipping, spray, pour on, back rubber, bantung bubuk bergantung atau semprotan bertekanan tinggi (jetting) ketubuh ternak.
Penyebaran Penyakit Miasis
Penyakit miasis secara umum jika menurut range perhitungan, maka pulau jawa relatif tidak ada atau hampir mendekati nol. Hal ini karena pulau jawa sedikit sekali yang memiliki padang penggembalaan, dimana penyakit ini sering terjadi pada hewan ternak yang digembalakan dipadang rumput terbuka. Namun tidak menutup kemungkinan daerah-daerah pusat penggemukan sapi potong seperti didaerah Jawa Barat seperti Garut, masih cukup rentan dengan adanya penyakit ini? (Iwan Berri Prima, FKH IPB)

  • Share/Bookmark
Print This Post Print This Post

Baca juga artikel lainnya :

No Comments

Comments are closed.

RSS feed for comments on this post.