Importasi Daging Babi dihentikan, apakah ini solusi??

Flu babi telah menggemparkan dunia. Sebagai antisipasi, pemerintah Indonesia melalui menko kesra mengadakan rapat pada hari ini. Departemen pertanian (deptan) pun diundang. Akan tetapi, sejauh mana efektifitas rapat koordinasi hari ini?. Seperti halnya dalam menghadapi permasalahan flu burung, seharusnya garda terdepan dalam menghadapi flu babi adalah kesehatan hewan. Karena sumber dari penyakit ini adalah hewan (penyakit zoonosa). Adalah menjadi sia-sia segala hal yang dilakukan oleh departemen kesehatan, jika sumbernya belum diberantas secara optimal. Oleh karena Indonesia belum terjangkit flu babi, optimalisasi peran strategis karantina hewan harus ditingkatkan. Disetiap port entry (pintu masuk) lalu lintas perdagangan babi harus diperketat. Penambahan medik veteriner (dokter hewan) bagi daerah yang belum terdapat dokter hewan sekiranya perlu dipertimbangkan.

Selain itu, Pemerintah Indonesia memutuskan menghentikan impor daging babi untuk sementara. Selain itu, juga akan dilakukan pemeriksaan terhadap 9 juta babi yang ada di Indonesia.

Demikian diungkapkan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie seusai rapat koordinasi lintas sektor kewaspadaan terhadap penyebaran wabah flu babi di Ruang Rapat Menko Kesra, Jakarta, Senin (27/4). “Tetapi kita tidak perlu khawatir karena kita berada di daerah tropis,” kata Aburizal.

Mengenai hal tersebut, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang mendampingi Aburizal menjelaskan, virus flu babi tidak bisa hidup dalam suhu panas sehingga diharapkan tidak masuk ke Indonesia. Virus babi yang saat ini menjangkit adalah gabungan antara virus babi Asia dan virus babi Eropa, flu burung, dan flu influensa dari manusia yang bermutasi.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa cara penanganan flu babi ini sama dengan flu burung. Obatnya juga sama, yaitu Tamiflu. Saat ini, katanya, terdapat tenaga kesehatan dan relawan terlatih yang berjumlah 30.000 orang, 100 rumah sakit rujukan, dan stok Tamiflu yang banyak. “Jadi masyarakat tidak perlu khawatir, tapi tetap waspada,” kata Siti.

Selain itu Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Departemen Perhubungan, sebagaimana dikatakan Aburizal, akan mengaktifkan 10 thermal scanner di 10 bandara dan pelabuhan, yakni di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdana Kusuma di Jakarta, Bandara Juanda di Surabaya, Bandara Hang Nadim di Batam, Bandara Hasanudin di Makassar, Bandara Ngurah Rai di Denpasar, Bandara Sepinggan di Balikpapan, dan Pelabuhan Tanjung Priok di Terminal satu dan dua.

Thermal scanner adalah alat yang dapat mendeteksi suhu tubuh manusia yang bertemperatur tinggi. Jika tubuh manusia yang diperiksa lebih dari 38 derajat Celsius, maka alat akan berbunyi. Jika ada yang dicurigai teriinfeksi flu babi, maka akan diberi Kartu Bahaya Kesehatan yang sudah disiapkan Departemen Kesehatan.

Rapat koordinasi dihadiri oleh Departemen Perhubungan, Departemen Kesehatan, Polri, Depdagri, Departemen Kebudayan dan Pariwisata, Deptan, Depkeu, dan Deplu di Ruang Rapat Menko Kesra.

Berdasarkan rapat tersebut, pertanyaan yang muncul adalah apakah upaya ini merupakan upaya yang bersifat solutif?? Atau hanya sifat reaktif dari pemerintah??, lagi-lagi sektor kesehatan hewan harusnya menjadi sektor yang akan bertanggung jawab lebih dalam kewenangannya menyehatkan babi di negara ini. Memang diakui, babi merupakan binatang haram bagi umat islam, tapi bagaimana dengan konsumsi babi bagi umat non muslim yang lain? Haruskah mereka mencari pengganti protein hewani selain konsumsi babi??

Sumber: dari berbagai sumber.

  • Share/Bookmark
Print This Post Print This Post

Baca juga artikel lainnya :

No Comments

Comments are closed.

RSS feed for comments on this post.