Flu babi: Kewaspadaan pentingnya sistem kesehatan hewan nasional

Zoonosis penyebab flu kembali merajalela. Jika kita di Indonesia selalu dihantui virus flu burung (H5N1) sejak beberapa tahun terakhir, maka di bulan April ini, sekitar seribu orang di Meksiko terinfeksi virus flu babi (H1N1), 60 orang diantaranya meninggal dunia. Tidak hanya itu, virus yang sama juga telah mencapai Texas dan California, dimana 8 orang positif terinfeksi. sungguh sesuatu hal yang perlu dikaji bersama. terlebih jika kasus ini sudah masuk di indonesia, apakah indonesia akan siap?boleh jadi departemen kesehatan RI sudah siap karena memiliki perangkat kesehatan yang terkoordinasi dari atas sampai bawah (daerah). tapi bagaimana dengan kesehatan hewannya. jika ada kejadian flu babi pada babi disuatu daerah di Indonesia, siapa yg bertanggung jawab? terlebih kalo didaerah itu tidak ada perangkat kesehatan hewan (dinas kesehatan hewan)?, karena tidak semua daerah ada dinas kesehatan hewan alias kesehatan hewan menurut UU otonomi daerah merupakan dinas yang kondisional, bisa boleh ada, bisa tidak.
Padahal akan menjadi sia-sia jika hanya menangani kasus pada manusianya saja sedangkan sumbernya (baca: hewan) tidak mendapat perhatian serius.

bisa dipastikan, kasus pada flu burung akan terulang pada flu babi saat ini, yakni jika ada babi yang sakit, masyarakat dihimbau lapor RT/RW setempat. pertanyaannya, sampai kapan hal ini akan terjadi?? mengingat penyakit berasal dari hewan yang bisa menular ke manusia itu semakin banyak. apakah RT/RW merupakan perangkat kesehatan??? jangan-jangan nanti cuma dibiarkan saja (mengingat RT/RW bukan merupakan perangkat kesehatan), sehingga virus sudah menyebar kemana-mana.

Penularan Antar Manusia

Babi sebagai sumber flu babi memiliki keunikan. Hewan ini tidak hanya dapat terinfeksi oleh virus flu babi, tapi juga virus flu yang berasal dari unggas dan virus flu manusia. Saat virus flu dari spesies yang berbeda menginfeksi babi, virus-virus tersebut dapat saling berkombinasi (tukar menukar elemen genetik) sehingga muncul virus baru. Saat ini dikenal empat macam virus flu babi yaitu H1N1, H1N2, H3N2, dan H3N1. Tetapi yang belakangan banyak ditemukan adalah jenis H1N1.

Virus H1N1 sejatinya hanya mengenai babi, tetapi karena adanya mutasi maka virus ini berubah sifat sehingga mampu menginfeksi manusia.

Penularan dari babi ke manusia terjadi karena adanya kontak dengan babi yang terinfeksi atau kontak dengan benda-benda yang telah terkontaminasi. Sedangkan penularan dari manusia ke manusia hampir sama dengan cara penularan flu biasa, yaitu melalui batuk atau bersin. Manusia juga dapat terinfeksi karena menyentuh benda yang telah terkontaminasi virus flu babi dari dari orang lain, kemudian memegang mulut atau hidungnya.

Gagal Napas

Gejala flu babi hampir sama dengan flu biasa, yaitu demam, lesu, kurang semangat, dan batuk. Selain itu juga dapat dijumpai gejala meler dari hidung, radang tenggorokan, mual, muntah, dan diare. Pada tahap lanjut, dapat dijumpai sesak napas. Kematian biasanya terjadi akibat adanya kegagalan pernapasan.

Pada babi yang terkena virus H1N1, gejala biasanya berupa peningkatan suhu tubuh, depresi, batuk, keluar cairan dari hidung atau mata, bersin, susah bernapas, mata merah, dan tidak mau makan.

Pencegahan Penting

Obat flu babi sama dengan obat yang digunakan untuk flu biasa atau flu burung. CDC merekomendasikan obat antivirus oseltamivir (Tamiflu) atau zanamivir. Hanya saja, obat ini lebih efektif jika diberikan pada tahap dini perjalanan penyakit, saat kerusakan pada sel paru-paru belum terlalu parah.

Belum ada vaksin yang dapat melindungi manusia agar tidak terkena flu babi. Oleh karena itu, langkah pencegahan untuk membatasi penularan sangat penting. Berikut tindakan yang perlu diambil untuk mengurangi risiko penularan jika Anda sedang berada di daerah wabah flu babi :

1. Menutup hidung dan mulut dengan tissue saat batuk atau bersin. Membuang tissue ke tempat sampah setelah digunakan.
2. Mencuci tangan dengan sabun dan air, terutama setelah batuk atau bersin. Tissue yang mengandung alkohol juga dapat digunakan.
3. Menghindari kontak erat dengan orang yang sakit flu.
4. Jika sakit, hendaknya tetap berada di rumah, tidak pergi bekerja atau ke sekolah, agar tidak menginfeksi orang lain.
5. Menghindari menyentuh mata, hidung, atau mulut. Virus menular lewat bagian tubuh tersebut.

sumber: warta medika dan dari berbagai sumber

  • Share/Bookmark
Print This Post Print This Post

Baca juga artikel lainnya :

No Comments

Comments are closed.

RSS feed for comments on this post.