Manusia dan Kehidupan Satwa Liar

Print This Post Print This Post

Oleh: Alimansyah (Mahasiswa FKH IPB)

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang kontak antara manusia dengan satwa liar seperti harimau dan gajah yang semakin sering terjadi. Hal ini tentu hal yang sangat menarik, karena satwa liar yang hidup biasanya jauh dari manusia, kini sering bertemu atau berdekatan dengan manusia. Tentu saja, kedekatan ini menimbulkan polemic baru yang terjadi masyarakat. Seperti yang terjadi baru-baru ini di Pekanbaru, belasan ekor harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) berkeliaran di permukiman warga Desa Tanjung Sari, Kecamatan Kuala Cinaku, Kabupaten Inhu, Riau, hal ini menimbulkan keresahan dari warga karena harimau yang berkeliaran tersebut telah memakan ternak warga atau dapat mengancam keselamatan hidup dari warga desa. (okezone, 23 desember 2009). Ini merupakan salah satu contoh nyata yang menunjukkan hewan-hewan liar mulai hidup dekat dengan manusia.
Read more >>>

  • Share/Bookmark

Baca juga artikel lainnya :

Tips Sehat Memelihara Hewan Kesayangan

Print This Post Print This Post

TEMPO Interaktif, Jakarta – Gandies menghabiskan waktu lebih dari enam jam sehari dengan 14 kucing peliharaannya. Bagi dia, berbagi makan dan mandi bersama mereka adalah hal biasa. Perempuan berusia 25 tahun ini tidak takut terjangkit penyakit hewan yang menular ke manusia (zoonosis), seperti dari parasit toksoplasmosis. “Yang penting menjaga kebersihan dengan selalu cuci tangan,” kata dia.

Dari hasil tes toksoplasma, karyawati perusahaan konsultan komunikasi ini memang diketahui negatif. Gandies memang cukup rajin memberi vaksin bagi beberapa kucingnya. “Namun ada beberapa yang belum,” katanya. Bagi para pemilik hewan peliharaan, memang sebaiknya waspada terhadap sejumlah penyakit yang mengancam, baik itu penyakit hewannya sendiri maupun penyakit hewan yang bisa menular kepada pemiliknya.

Penyakit menular itu, dicontohkan dokter hewan Widyanto Adi Nugraha, adalah penyakit yang disebabkan bakteri, virus, dan parasit, seperti rabies dan toksoplasmosis. Malah, kata Adi, orang yang berkulit sensitif juga rentan terkena cacingan dan jamur dari hewan peliharaannya. Adi menjelaskan, untuk mengenali ciri hewan yang sakit–misalnya kucing–bisa dilihat dari menurunnya nafsu makan. Secara fisik, hewan lemas dan lebih banyak tidur serta bermalas-malasan. “Biasanya muntah dan terserang diare jika terjadi gangguan pencernaan,” ujar dokter yang berpraktek di Klinik Hewan Kartini, Jakarta, ini kepada Tempo kemarin.

Ciri lain, bila ada penyakit pada pernapasan, hewan bakal batuk, pilek, dan muncul kotoran pada matanya. Bila ada masalah kulit, bulu akan rontok dan timbul area-area keropeng pada kulitnya. Hal itu, menurut Adi, bisa karena makanan atau sampo yang tidak cocok, sehingga menimbulkan kutu dan jamur.

Pada musim hujan seperti sekarang, menurut dokter hewan lain, Iwan Berri Prima, kucing biasa terserang flu. Gejalanya mirip seperti flu pada manusia. Seperti diawali bersin-bersin, demam, turunnya nafsu makan, lemah, lesu, dan mata merah berair. Berri mensinyalir penyakit cat flu atau flu kucing adalah penyakit hewan peliharaan yang cukup banyak saat ini. Penyebabnya adalah infeksi satu virus atau kombinasi beberapa virus, yakni herpes dan virus calici. “Akan menjadi fatal apabila telah terinfeksi bakteri,” ujar Wakil Direktur Advokasi Wahana Agrobisnis Peternakan Indonesia ini.
Read more >>>

  • Share/Bookmark

Baca juga artikel lainnya :

Perjalanan sejarah perjuangan mahasiswa kedokteran hewan Indonesia (Bagian I – Awal mula ISMAKAHI)

Print This Post Print This Post

Oleh: Setyo Yudhanto (Tim Suksesi Investigasi IMAKAHI FKH UGM)

Selalu jika dirunut kebelakang perjalanan sejarah akan mejadi nostalgia serta patokan perjuangan didepan, kepingan sejarah Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia (IMAKAHI) rasanya kurang lengkap jika belum menyampaikan fakta dari para saksi sejarah, berdasarkan wawancara dengan salah satu pendiri awal IMAKAHI Prof. Dr. drh. Imam Mustofa.,Mkes., oleh Tim Investigasi sejarah IMAKAHI di FKH Unair (berdasarkan keputusan PraMunas) berikut disampaikan petikan awal sejarah tentang IMAKAHI (bagian I).

Berawal dari tahun 1979, Pemerintah melalui program NKKBKK (Normalisasi Kehidupan Kampus melalui Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang bertujuan agar setiap kegiatan organisasi kampus terkoordinasi oleh pihak Rektorat menghendaki semua organisasi berorientasi di Kampus. Sosialisasi program ini gencar dilakukan oleh pemerintah, selanjutnya dengan penanggung jawab Prof. Nastio (Dubes UNESCO), delegasi dari Unair menghadiri acara sosialisasi yang berisi briefing dan pengarahan tentang pembentukan Ikatan Senat di tiap-tiap kampus, termasuk di Fakultas Kedokteran Hewan. Setelah acara tersebut ditunjuklah penanggungjawab dari mahasiswa FKH Unair yang selanjutnya membentuk tim untuk segera merealisasikan tujuan program NKKBKK ini.
Read more >>>

  • Share/Bookmark

Baca juga artikel lainnya :

Hari Ini AFA 2010 di Singapura Berakhir

Print This Post Print This Post

Asia For Animals Conference (AFA) tahun 2010 yang berlangsung sejak tanggal 15 Januari 2010 yang lalu di Singapura, hari ini (Senin, 18 Januari 2010) berakhir. Dari berita yang disampaikan oleh salah satu delegasi dari Indonesia, drh.Amir Mahmud menyampaikan bahwa Forum ini merupakan forum terbesar di Asia yang membahas tentang masalah-masalah perlindungan hewan (animals protection). Baik hewan kesayangan, satwa liar, ternak dan lain sebagainya.

Dalam konferensi yang dihadiri oleh 391 Delegasi dari 207 organisasi dari 26 negara di Asia ini menghasilkan suatu resolusi yakni mendesak pemerintah di Asia, termasuk pemerintah Indonesia untuk menegakkan aturan yang melindungi dan memperlakukan hewan lebih manusiawi.

Namun demikian, patut disayangkan ternyata delegasi resmi dari pemerintah Indonesia tidak tampak terlihat dalam pertemuan tersebut. Adapun pertemuan AFA 2011 berikutnya dilaksanakan di China.

  • Share/Bookmark

Baca juga artikel lainnya :

Mengenal Penyakit Sapi Gila

Print This Post Print This Post

ternak sapiBSE atau Bovine spongiform encephalophathy adalah penyakit degenerasi saraf yang progesif pada sapi dewasa, yang menyerang sistem syaraf otak dan medulla spinalis dan bersifat fatal (fatal neuroginal disease) sehingga dapat menimbulkan kematian pada sapi, penyakit ini juga dapat ditularkan kepada hewan dan manusia. Penyakit ini memiliki masa inkubasi yang lama yaitu empat sampai lima tahun, tetapi pada akhirnya fatal pada ternak dalam dua bulan sampai berbulan-bulan serangannya. BSE pertama kali menjadi perhatian komunitas ilmuwan pada November 1986 dengan gejala baru dan bentuk baru yaitu penyakit saraf di United Kingdom (UK). Dari tahun 1986-2001 tersebut terdapat lebih dari 98% kejadian BSE di UK, dan diluar UK terjadi lebih dari 25% (tahun 2000) serta lebih dari 45% (tahun 2001).

Sumber penularan
•Pakan ternak dari jaringan sapi seperti otak dan saraf tulang belakang yang terkontaminasi oleh agen BSE (hasil penelitian di Inggris).
•Agen yang menyebabkan penyakit telah bergeser dari peristiwa secara spontan pada ternak, karkas yang kemudian masuk ke dalam rantai makanan, hingga rantai pakan ternak dari karkas domba dengan penyakit serupa
Read more >>>

  • Share/Bookmark

Baca juga artikel lainnya :